Oleh: Komang Sugiarta | Juli 29, 2009

PERTANIAN ORGANIK

MENUJU PERTANIAN MASA DEPAN.

Ayo kawan kita bersama

Menanam jagung di kebun kita

Ambil cangkulmu, ambil cangkulmu

Kita bekerja tak jemu jemu

Cangkul cangkul cangkul yang dalam

Tanahnya subur jagung ku tanam

Beri pupuk supaya subur

Tanamlah jagung dengan teratur

Lupa.. Lupa… lupa…. Lupa

Lupa lagi Syairnya….!!! Ingat ….!!! Ingat ….

Srikandi-Oerganik-KarangaseItulah sekelumit keceriaan lagu masa kecil anak-anak dahulu, yang sekarang amat  jarang kita dengar, dan kalaupun anak-anak sekarang mendendangkan lagu tersebut sesungguhnya mereka sulit membayangkan situasi diatas, karena mereka sudah jauh dari  Lingkungan Alam mereka . Saatnya anak-anak dikenalkan Pertanian organik sejak   mereka masih kecil

Saat Tanah Pertanian semakin rusak

Coba perhatikan Tanah Pertanian Kita, kondisi tanahnya yang tidak seperti dulu, kondisi tanahnya sudah padat seperti tanah liat, klo disaat kering terlihat retak-retak, dan disaat dibajak akan membentuk gumpalan- gumpalan tanah liat, humus tanah sudah miskin unsur hara yang ada didalamnya sudah terserap oleh Pupuk Kimia. Dulu tanah pertanian di Bali, khususnya Karangasem , disaat musim kering kalau dibajak atau dicangkul  tampak gembur dan menampakkan rupa warna coklat tua, jika musim hujan tidak menimbulkan areal tanah persawahan tanahnya menjadi liat dan air tanahnya akan segera terserap ketanah. Seperti manusia , tanah ibu pertiwi yang sekarang, tampak tidak bisa bernapas, karena pori-pori tanah yang ada sudah tertiutp oleh  gumpalan tanah liat.

Saat Pupuk Kimia menjerat Petani.

Kebijakan Pemerintah dengan menggenjot hasil Pertanian dengan menggelontor Petani dengan Pupuk Kimia, ternyata berdampak ketergantungan Petani akan pupuk kimia yang tinggi, Tanpa sadar Budaya Petani sudah berubah, menjadi Petani yang serba Instan menjadikan kebiasaan Petani terdahulu  yang biasa membawa sampah rumah tangganya ke Sawah, sudah tidak dilakukan, karena sudah digantikan perannya oleh Pupuk Kimia. Peran Perempuan Bali dahulu dengan kearifan Budaya Lokal membawa sampah komposnya kesawah, sudah berubah membuang sampahnya di bak sampah atau dibuang tidak dimanfaatkan untuk pupuk organic. Berarti kondisi sekarang tanpa sadar Pengeluaran Anggaran Petani dari sector Pupuk Kimia menjadi beban yang terasa memberatkan Patani.

Product Pertanian  yang Sudah terkontaminasi bahan-bahan Kimia

Mulai dari Benih, pupuk Kimia dan Pestisida Kimia.

Product-product Pertanian yang sudah beredar sekarang hampir mayoritas adalah product-product yang tidak ramah Lingkungan. Kita mengkonsumsi beras yang tanpa sadar padi tersebut dari benih yang tidak organic, dibesarkan oleh kondisi tanah dan air yang sudah terkontaminasi oleh bahan-bahan Anorganik, ditambah lagi Pupuk Kimia dan Pestisida yang berbasis bahan kimia, tanpa sadar sudah cukup memberi andil merusak menurunkan derajat kesehatan Masyarakat dan juga tanpa sadar Lingkungan menjadi rusak.

Kelembagaan Petani yang Kurang diberdayakan.

Kelembagaan Petani , seperti Lembaga Subak dalam mewadahi anggotanya tidak bisa berbuat banyak, dan sepertinya tidak berdaya, karena kehadiran Lembaga tersebut yang merupakan ujung tombak dalam keberlangsungan Pertanian, minim sentuhan  dan SDM yang mengurus Lembaga tersebut hanya mengurus pola tanam dan pembagian air, belum sampai mengatur pada tanaman apa yang akan ditanam dan  kalau  nanti Panen hasilnya tidak tahu kemana akan dipasarkan. Lembaga lainnya seperti adanya HKTI ( Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ) dan KTNA ( Kerukunan Tani dan Nelayan Andalan )yang ada didaerah hampir tidak berdaya, kekeringan ide, kehadirannya tidak bisa menjawab permasalahan dan kebutuhan Petani, yang harus diperjuangkan  dengan Pemerintah dan berjuang ke DPR untuk program-program yang menyentuh Petani.

Pemberdayaan Petani masih ego Sektoral, Petani

Belum digarap secara Komprehensip, Terpadu dan Berkelanjutan

Dalam pendampingan terhadap Petani, terasa program yang diperuntukkan kepada Petani, masih bersifat Parsial/ sepotong-sepotong, tidak diberikan pendampingan dari producksi dan pasar, dan sering tidak bersinergi program antara Pemerintah dan lembaga- Lembaga Swadaya Masyarakat , sehingga kembali lagi ujung-ujungnya Petani yang menjadi korban. Untuk kedepannya sudah saatnya Lembaga pendamping Petani bisa mendampingi Petani dari awal sampai akhir dan siap mengawal programnya sampai produksinya berhasil dan mencarikan pemecahan Pemasaran dari hasil Produksi Petani yang dihasilkan.

Pengadaan Alat Produksi dan Bantuan  Pertanian

Diadakan oleh Rekanan yang sesungguhnya tidak paham akan Dunia Pertanian.

Petani sering dikorbankan oleh Rekanan yang memenangkan Tender, khususnya tentang benih dan bibit tanaman, yang fakta Lapangannya Rekanan tersebut sama sekali tidak paham akan benih, bibit apalagi tentang pupuk organic. Rekanan tersebut punya kewajiban untuk pengadaan benih hanya berdasarkan volume dari Proyek tersebut, tanpa mereka punya tanggung jawab  mengawal benih/ product tersebut sesuai dengan spek. Dengan System pengadaan seperti ini jelas Petani akan ditempatkan pada pilihan tanpa adanya perlindungan dari Rekanan yang mengadakan benih tersebut. Dan sudah saatnya Pemerintah bisa lebih tegas jika ada rekanan seperti itu, Pemerintah mesti memberikan ultimatum agar memblacklist  rekanan yang bersangkutan. Klo tidak seperti itu Petani akan terus dihadapkan pada situasi yang tidak mendapatkan perlindungan.

Image Tentang Dunia Pertanian Yang Kurang Baik.

Persepsi Tentang Petani, dari anak-anak Sekolah Dasar maupun Remaja Kuliahan, memandang Profesi Petani tidak bisa memberikan kesejahteraan, tidak bergengsi dan identik  dengan Kemiskinan. Disekolah sekolah SD yang nota bene mereka ada di Desa tidak memberikan muatan Lokal Pertanian, dan ironisnya pihak orang tuapun berpesan sama anaknya, “ Nanti Kalau sudah tamat Sekolah Jangan menjadi Petani “  wah…. Klo sudah begini kita mau bagaimana ? Kapan Pertanian akan ditempatkan pada Profesi yang mulia …?

Program Pemerintah mengarah ke Pupuk Organik

Sesungguhnya anjuran Pemerintah dari dulu sudah menyarankan penggunaan Pupuk Organik, namun pada kenyataannya Petani masih digelontor oleh Pupuk Kimia, yang konotasi Pabrik tersebut adalah milik Negara yang harus dilindungi Produksinya. Dan yang jelas Pemerintah menyarankan pemakaian pupuk organic setengah hati. Pemerintah juga sudah menyadari, bahwa Pupuk Kimia punya andil yang cukup besar merusak Lingkungan Pertanian, Hal ini bisa dilihat  Pemerintah Pusat akan melakukan gebyar Pupuk Organik  ditahun 2010, ditindak lanjuti dengan statement Gubernur Bali, akan menghapuskan Subsidi Pupuk Kimia, mengingat Pulau Bali yang kecil dengan Perkembangan Sektor Pariwisatanya , mengharuskan dan sudah seharusnya segera kembali ke Pupuk Organik , yang didukung oleh Sektor Pariwisata.

Trend  Dunia Menuju Pertanian Organik.

Masyarakat Komunitas Dunia sangat mendukung dan merekomendasikan product Pertanian berbasis Organik, disamping memberikan dampak kesehatan secara Jasmani Indipidu masing-masing, juga yang tak kalah mulianya ada dorongan untuk menyelamatkan Bumi/ Ibu Pertiwi dengan ikut serta menjaga Kelestarian Alam/ Lingkungan Hidup.  Mengkonsumsi Product Organik  berarti turut ambil bagian disamping menjaga kelestarian Alam, secara tidak langsung berdampak  pada mendorong kearifan Petani Lokal, kembali menekuni Pertanian Organik

Sifat dari Pertanian Organik

Sifat dari pupuk Organik yang menguntungkan bagi tanah, dan penggunaan Pupuk Organik diareal luasan lahan yang sama semakin lama semakin menurun dan hemat. Hal yang  berbeda dengan Pupuk Agrokimia yang selain semakin merusak kualitas tanah juga semakin meningkat dan boros penggunaannya. Product Pertanian Organik, menjadikan sehat bagi yang mengkonsumsi, lahan pertanian menjadi subur, Lingkungan menjadi Lestari  berarti sudah turut ambil bagian dari penyelamatan Bumi.

Mari bergagung dengan Komunitas Organik

Jangan sia siakan kesempatan yang baik ini, mari bergabung dengan  misi mensejahterakan Petani dengan Kesejahteraan untuk semua. Mari bergandengan tangan menuju Pertanian Organik .

Komang Sugiarta

prusugi@gmail.com.

Member dari Pupuk Organik RI 1 .


Responses

  1. Semasih organisasi tradisional pengairan yang bernama Subak di Bali tetap ajeg, kita tak perlu khawatir…
    Karena Subak tetap menganut sistem pertanian yang bertumpu pada Tri Hita Karana… Yang tentunya ramah lingkungan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: