Oleh: Komang Sugiarta | Juli 26, 2009

Konsep Sekolah Terpadu di Tegallinggah

GERAKAN GEMAR MEMBACA

GERBANG  MENUJU  DESA  GLOGAL

web-pasphoto-udeng-kecilLATAR BELAKANG

Begitu terngiang di Telinga mendengar kata Desa, secara Umum Persepsi yang muncul adalah Kampung, Kumuh, Terbelakang, Tidak berpendidikan , masyarakatnya terbelakang dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Begitu juga mendengar dari Karangasem Bali yang timbul persepsi Daerah minus, penduduknya miskin dan temperamen Masyarakatnya Keras. Gambaran itu sesungguhnya teramat tidak menarik hati bagi yang sudah biasa hidup di Kota dengan serba modernisasi.

Dan akan Halnya orang begitu mendengar Pendidikan, yang terbayang adalah siswa belajar di Kelas  ,guru berdiri didepan kelas dengan berteori , masuk kesekolah pagi dan pulang siang hari, berpakaian seragam dan masih banyak lagi yang lainnya sehingga tanpa sadar sepertinya kita terpaku hanya mengetahui dan menghargai pendidikan formal belaka dan lebih menghargai orang yang punya ijasah/ sertifikat dan kalaupun kenyataannya masih sangat banyak lulusan sekolah formal yang punya ijasah tetapi tidak memiliki ketrampilan kecakapan hidup , sehingga hal ini menyebabkan antrian pengangguran semakin bertambah panjang, menunggu pekerjaan dan tidak kreatif dalam menciptakan lapangan Pekerjaan.

Pernahkah kita bayangkan seorang yang tidak lulus SD Formal pada kenyataannya dia memiliki Usaha atau seorang Wirausaha yang membawahi cukup banyak karyawan dan bisa menghidupi dan menyekolahkan anak- anaknya yang karena persoalan waktu dan system pembelajaran sekolah Formal sehingga mereka tidak bisa mendapatkan ijasah ???, atau mereka karena tidak ada biaya atau factor usia sehingga mereka tidak dapat meneruskan Pendidikan ??? Dan kenapa orang-orang tua kita terdahulu lebih bijak mengartikan bahwa pendidikan tidak harus selalu ada didalam kelas dan terkadang bisa di Padepokan, di Pesraman,dibawah pohon  ataupun tempat-tempat lainnya yang jauh dari kesan formal, dan hasil didikannya mumpuni baik dari segi Moral maupun Ilmu Pengetahuan yang dimiliki..

Sekilas paparan diatas tidak membuat  lantas kami berpikiran bahwa  Pendidikan Formal  tidak diperlukan, secara tegas Perlu tetapi Pendidikan Formal adalah salah satu dari system pendidikan yang ada. Untuk itu dalam kesempatan ini PKBM “Mitra Fajar Lestari” akan mengembangkan Pendidikan Non Formal terpadu dengan Pendidikan Formal yang ditunjang Pemahaman Iptek yang akan mewadahi Warga yang ingin mendapatkan Pendidikan sesuai dengan kebutuhan mereka dilengkapi dengan PERPUSTAKAAN DESA ,dan hal tersebut bisa dilakukan secara Flexibel yang berbasiskan ketrampilan dan Usaha yang akan menunjang kehidupan mereka kelak. Dan hal ini perlu dibuktikan dengan membuat langkah kongkrit dalam bentuk Pilot Project.

Adanya pemikiran ide penyelenggaraan Pendidikan terpadu antara Pendidikan Formal dan Non Formal di Tegallinggah ,didasari pemikiran disejumlah SD Formal setiap tahun terjadi penurunan jumlah siswa,sehingga keberadaan sekolah menjadi tidak efektif,Juga adanya ide terobosan untuk membuat pilot project alternative selain Regrofing.untuk mengefektifkan fungsi pelayanan pendidikan mengingat system yang ada sekarang adalah pendidikan yang berbasis masyarakat.

Rendahnya kualitas hasil pendidikan nasional, baik melalui pendidikan formal dan khususnya pendidikan non formal yang sudah secara  umum di ketahui disebabkan beberapa faktor :

¨       Pengetahuan masyarakat tentang lembaga pendidikan, pemahamannya hanya pendidikan formal belaka dan masyarakat masih banyak yang punya penilaian, lebih menghargai orang yang punya ijasah dari sekolah formal karena terpandang lebih punya gengsi dari pada sekolah non formal yang di anggap sebagai pendidikan kelas dua, walaupun kenyataannya tamatan sekolah formal banyak tamatannya yang menjadi penganggur karena tamatan mereka tidak mempunyai bekal keterampilan.

¨       Pendidikan luar sekolah juga belum menunjukkan jati dirinya merupakan lembaga pendidikan alternatif yang punya harkat dan martabat sama dengan lembaga pendidikan formal, dan banyak terkesan lembaga pendidikan luar sekolah khususnya program paket A, B, C, sering tidak berani untuk menampakkan diri dan terkesan sembunyi – sembunyi, dan itu justru menciptakan image yang kurang bagus ,yang akhirnya kurang di kenal masyarakat, kurang dicintai dan terkesan menjadi warga pendidikan kelas dua.

¨       Belum adanya Percontohan/ Pilot Project Penyelenggaraan Pendidikan Non Formal Yang terlihat sekarang Pendidikan luar sekolah kebanyakan tidak terkelola secara baik secara manajemen dan terkesan hanya menunggu belas kasihan pemerintah tanpa berupaya lebih keras dan lebih kreatif.

¨       Warga belajar khususnya Penyetaraan SD,SMP,SMA (paket A, B, C), tidak di dukung oleh sarana ketrampilan yang produk – produknya diminati oleh pasar / konsumen.

¨       Kurangnya menggandeng lembaga – lembaga lain seperti Dinas / Instansi, Lembaga Swadaya, Swasta dan Tokoh – tokoh Masyarakat dan Perusahaan yang Peduli akan Pendidikan.

¨       Kebijakan pemerintah yang sekarang popular dengan penanggulangan kemiskinan hanya diartikan dari sudut ekonomi saja, padahal kemiskinan sebenarnya mempunyai makna yang luas, awal miskin ilmu pengetahuan, miskin keterampilan, miskin sikap hidup.

¨       Dalam Era Otonomi Daerah kalangan pemerintah daerah belum begitu konsen menggarap pendidikan luar sekolah padahal tenaga kerja menganggur berkolerasi langsung dengan SDM yang punya pendidikan tapi miskin keterampilan, miskin pendidikan miskin juga keterampilan. Sehingga perlu ditingkatkan untuk membenahi SDM khususnya pendidikan luar sekolah.

¨       Kalaupun ada, sekolah pendidikan keterampilan belum terkelola secara baik dan materi – materi pendidikan keterampilan sering tidak matching dengan dunia usaha / dunia kerja, sepertinya dunia pendidikan berjalan sendiri – sendiri sehingga output yang dihasilkan tidak bisa terserap oleh dunia kerja / dunia usaha.

¨       Pemerintah dalam menganggarkan Honor bagi Pengajar sangat minim khususnya bagi Tenaga Tutor ataupun biaya Penyelenggaraan sehingga Pelaksanaan Program menjadi kurang efektif karena kurang ditangani secara Manajemen yang bagus dan serius.

Mengingat akan permasalahan tersebut diatas kami akan mencoba mewujudkan pendidikan luar sekolah, khususnya paket A, B dan C secara terpadu dan terintegral dengan Pendidikan Formal dan tentunya hal ini akan dimulai secara bertahap dengan pendekatan Lintas sektoral.yang dilakukan Lembaga PKBM yang bekerjasama dengan Komite Sekolah.

KIM GATRA WAHANA TEGALLINGGAH

Prusugi@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: