Oleh: Komang Sugiarta | Juli 24, 2009

Meningkatkan Srada

Aturan-DulangApakah Kita Akan Menjadi Generasi

“ Anak Mule Keto “     atau    “Generasi Instan “

dalam hal Upakara Bebantenan

Bali dikenal dengan sebutan Seribu Pura, Bali island Of God, Bali Penduduknya Mayoritas Agama Hindhu dan Hampir setiap hari “ Tiada Hari Tanpa Upacara”. Upacara Bebantenan identik dengan Pengembangan kasanah Kebudayaan yang dilandasi oleh Ajaran Agama Hindu.  Upacara Agama Hindhu di Bali Identik dengan Nafas Kebudayaan Bali, sehingga betapa besar peranan Upacara di Bali, bahkan hampir setiap hari  mewarnai proses Kehidupan orang Bali. Begitu besar Unsur Upakara di Bali yang mengandung makna Pelestarian Budaya dengan Pemahaman Sastra, sehingga tidak menjadi generasi yang Gugon Tuwon alias  “ Mula Keto” . Yang lebih memprihatinkan lagi trend  yang ada sekarang berubah semuanya mau serba Instan , serba gampangan dan serba praktis,akhirnya tiada kata lain “Bebantenan Beli saja biar tidak Repot “ Akhirnya dengan konsep Praktis tadi akhirnya Para Umat Hindhu  melakukan Prosesi upacara miskin pemaknaan. Lantas pertanyaannya Kenapa terjadi seperti itu …???? .

Kenapa Sanggar Telematika Tegallinggah mencoba mengangkat topic Bebantenan , mengingat Upakara Agama Hindhu di Bali  hampir tidak pernah mandeg/ berhenti , rutin terjadi  setiap hari . Upakara di Bali tidak memandang  Krisis Global , Krismon ,resesi Ekonomi,kondisi Ekonomi sedang terpuruk. Dan sesuatu dari sudut pandang lainnya yang tidak kalah pentingnya aktifitas bebantenan bisa melibatkan komponen Masyarakat cukup banyak dan pada kegiatan ini juga terselip Misi Penyelamatan Nilai Budaya yang dilandasi Agama Hindhu. Disamping hal tsb diatas, Konsep bebantenan mengandung  dimensi ekonomi sangat besar dan tentunya akan terjadi sinergi  antara kegiatan yang satu dengan yang lainnya, dan akan terjadi spesialisasi dalam pengerjaan dan kecepatan pengerjaan bebantenan akan bisa dipercepat.

Juga yang tidak kalah pentingnya bahwa sarana Upakara bebantenan mayoritas dikerjakan oleh Para Perempuan Bali, yang mana bisa dikerjakan dari rumah masing-masing, sehingga kegiatan pembuatan elemen bebantenan bisa dilaksanakan sambil menunggu rumah, memelihara babi atau menunggu dan mengawasi anak-anak . Perlu diingat betapa besar peranan Perempuan Bali dalam pelaksanaan prosesi Upakara bebantenan dan memberikan sumbangsih dalam peran rumah tangga, baik dari segi ekonomi maupun dari segi pendidikan Anak. Untuk itulah cukup menarik apabila pemberdayaan Perempuan bisa dibuat optimal dalam arti  penggarapan bebantenan secara menyeluruh dengan pemahaman pemaknaan dari Symbolis yang ada didalam elemen Bebantenan berdasarkan sastra Agama..

Dan fakta dilapangan yang ada sekarang, kalaupun ada Tukang banten yang sudah melayani jasa bebantenan, maaf tanpa mengecilkan arti, tetapi faktanya Tukang banten itu sendiri kurangnya  pemahaman / pemaknaan akan arti setiap elemen dari Bebantenan tersebut. Mereka mengerjakan kebiasaan dari dulu seperti itu , mungkin dalam hati jawabannya juga “Anak Mula Keto

Pertanyaan saya akankah kita akan menjadi seperti itu ….. ????

Ditunggu komentar dan masukannya untuk penyempurnaan dari Program Pelatihan  dan pengelolaan Pelayanan Bebantenan. Suksma.

  • Kontributor
  • Sanggar Telematika Tegallinggah
  • Komang Sugiarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: